Jumat, 12 Maret 2010

Obama, Yahudi, dan Kaum Muslimin


Obama, Yahudi, dan Kaum Muslimin
Oleh: Zoel Dirga Dinhi (Dosen Akuntansi Universitas Fajar)

Zoel Dirga Dinhi
Presiden Amerika Serikat Barack Obama akan berkunjung ke Indonesia pada 20-22 Maret nanti. Selain di Jakarta, Obama juga berencana akan berkunjung ke Yogyakarta. Pemerintah membuka pintu lebar-lebar terhadapnya karena dianggap akan memberi keuntungan bagi Indonesia. Bahkan, pemerintah meminta rakyat untuk menghormati tamu kehormatan tersebut. 

Barack Obama adalah presiden AS menggantikan Presiden George Walker Bush yang kalah pada Pemilu AS tahun 2008. Kemenangannya juga tidak lepas dari campur tangan Yahudi, terbukti saat ia menyampaikan pidatonya di depan AIPAC (American Israel Public Affairs Committee), 

sebuah kelompok lobi di AS yang bertujuan melobi Kongres AS dan badan eksekutif pemerintahan dengan tujuan menghasilkan kebijakan yang meningkatkan hubungan dekat antara AS dan Israel. 

Dalam pidatonya, Obama berjanji akan membasmi Hamas, menangkap Osama bin Laden, dan menghancurkan Taliban, serta mendukung Israel. Bahkan dalam kampanyenya, Obama menegaskan bahwa dirinya adalah "sahabat sejati" Israel. Obama juga mempertegas bahwa Yerusalem seharusnya menjadi ibukota bagi Negara Yahudi. (eramuslim.com 05/11/08). 

Setelah digadang-gadang oleh banyak pihak bahwa Obama akan memberikan perubahan yang berarti bagi dunia Islam, ternyata ia malah melakukan tindakan yang sebaliknya. AS saat ini jelas-jelas tengah menjajah negeri Muslim, seperti Irak dan Afghanistan. AS juga terus menyerang wilayah perbatasan Pakistan dan Afghanistan. 

Akibatnya, negara-negara itu kini hancur berantakan. Bukan hanya secara fisik, tapi juga secara sosial, politik, ekonomi dan budaya. Tak terhitung besarnya kerugian yang ditimbulkan. Ratusan ribu bahkan mungkin jutaan rakyat di sana meninggal karenanya. 

Berdasarkan penelitian John Hopkins University, akibat invasi AS ke Irak sejak tahun 2003, lebih dari satu juta warga sipil Irak tewas. Siapa yang harus bertanggung jawab atas semua tragedi ini? AS pastinya. 

Hingga kini, negara itu dipimpin oleh Obama. Memang dulu ketika AS menginvasi Irak dan Afghanistan, AS dipimpin oleh Presiden Bush. Tapi Obama tidak mengubah kebijakan biadab itu. Meskipun pernah ada rencana untuk menarik pasukan dari Irak, tetapi sampai sekarang belum diwujudkan. 

Bersamaan dengan dianugerahinya Nobel Perdamaian, ia bahkan sudah memutuskan menambah 30 ribu pasukan ke Afghanistan. Itu artinya tingkat kerusakan dan penderitaan rakyat di sana, termasuk yang kemungkinan bakal tewas, akan semakin meningkat. 

Sosok presiden seperti itulah yang rencananya akan mengunjungi negeri kita. Sebuah sosok yang kejam, yang tidak beda dengan Bush, yang tangannya berlumuran darah dan yang tidak memiliki rasa belas kasih sedikitpun. 

Hingga sekarang, ia bahkan tidak sedikitpun mengungkapkan rasa simpati terhadap para korban tragedi Gaza setahun lalu. Jangankan bersimpati terhadap korban atau kutukan terhadap pelaku, menyinggung peristiwa itu saja tidak pernah ia lakukan. 

Dalam pidato inaugurasi atau pelantikannya sebagai presiden, tak sedikit pun ia menyinggung soal Gaza. Padahal itu peristiwa besar dengan korban lebih dari 1.300 orang tewas, yang telah menarik perhatian masyarakat dunia. Tapi bagi Obama, tragedi Gaza itu seolah tidak pernah ada. 

Menurut Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia, M Ismail Yusanto, sudah seharusnya sebagai negara yang berdaulat, Indonesia, dalam pembukaan konstitusi telah menegaskan penentangannya terhadap segala bentuk penjajahan, dan karenanya penjajahan itu harus dihapuskan. 

Dalam konteks Obama, jika ingin konsisten dengan prinsip ini, sudah semestinya Indonesia juga harus menentang penjajahan yang dilakukan oleh AS di Irak dan Afghanistan. Dan bentuk paling ringan penentangan itu adalah menolak kehadiran presiden dari negara penjajah itu. 

Jika pemerintah tidak mampu melakukan hal sekecil itu, berarti pemerintah semakin menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara bermental terjajah yang akan terlihat kecil di hadapan negara lainnya. 

Agenda Ideologis 

Tujuan kunjungan Obama ke Indonesia tidak hanya akan melakukan kunjungan kenegaraan, apalagi dengan alasan akan mengunjungi rumah masa kecilnya di kawasan Menteng dan menikmati makanan favoritnya semasa tinggal di Jakarta. 

Memang ada nuansa nostalgia karena Obama semasa kecil pernah sekolah di sana. Tapi itu amat sangat tidak penting. Kita jangan terkecoh. Tidak mungkinlah presiden dari sebuah negara imperialis sebesar AS datang ke sebuah negara untuk sekadar bernostalgia. 

Lebih dari itu, rencananya Obama dan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono akan secara resmi meluncurkan United States-Indonesia Comprehensive Partnership, sebuah inisiatif di mana AS akan memperluas dan memperkuat hubungan dengan Indonesia untuk menangani isu-isu regional dan global. 

Bahkan menurut Dino Patti Djalal, juru bicara presiden, akan ada diskusi tentang penyusunan isi kemitraan komprehensif yang akan diluncurkan. Makna dari kunjungan adalah untuk mengintensifkan hubungan Indonesia-AS untuk beradaptasi dengan tantangan abad ke-21. (indomagz.com 02/02/10) 
Kemitraan tersebut juga dimaksudkan untuk lebih merekatkan tali kerja sama kedua belah pihak. 

Tidak hanya menyangkut satu isu, tetapi juga hubungan yang lebih merata, baik di bidang energi, iptek, perdagangan, investasi, pendidikan, dan lain sebagainya. 

Pastilah ada agenda untuk mengokohkan kepentingan politik dan ekonomi AS di negeri ini. Indonesia adalah negara yang sungguh penting buat AS. Indonesia merupakan negara Muslim terbesar di dunia. Kaya sumberdaya alam, khususnya energi. Pasar yang sangat potensial untuk produk-produk ekspor AS. 

Sangat banyak perusahaan AS di bidang migas seperti Chevron dan Exxon Mobil serta perusahaan pertambangan seperti Freeport Mc Moran yang beroperasi di Indonesia. Dari perusahaan-perusahaan itulah, sangat banyak AS menikmati kekayaan negeri ini. 

Apalagi kini AS tengah bersaing secara ekonomi dengan China. Kunjungan Obama ke Indonesia untuk memastikan bahwa Indonesia tetap dalam genggamannya. 
Kemudian apa keuntungan yang didapat Indonesia? Mungkin saja ada keuntungan, tapi bila dibandingkan dengan kerugian, pasti kerugian itu lebih besar. 

Kita selama ini memang telah dikungkungi rasa takut. Seolah kita akan hancur bila melawan AS. Tapi lihatlah negara seperti Venezuela, Bolivia, dan negara-negara Amerika Latin. Juga Iran yang berani tegas terhadap AS, buktinya mereka tidak hancur. Bahkan dengan cara itu, mereka justru makin maju. 

Iran bisa terus memanfaatkan nuklir untuk sumber energi. Lebih dari 80 persen hasil migas Venezuela dan Bolivia kini bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyatnya. Ini jumlah yang berkebalikan dari sebelumnya yang hanya 20 persen. Itu semua didapat melalui program nasionalisasi yang tentu amat ditentang oleh AS. 

Jadi justru karena menentang AS mereka menjadi untung, bukan buntung. Sementara kita hanya bisa terus mengemis kepada AS. Sudah saatnyalah negeri ini tidak dipandang sebelah mata oleh negara-negara lain sebagaimana Khilafah Islamiyah dulu pernah mengukir tinta emas kejayaan Islam dan melindungi hak-hak kaum muslim dan nonmuslim di dalamnya, bahkan beratus tahun lamanya menjadi negara super power yang beradab dan bermartabat. (**)

Tidak ada komentar: