Senin, 25 Februari 2008

Filsafat Babi VS Filsafat Ayam

Pernah ada seorang sufi bertandang ke negara Paman Sam. Disana dia ditanya perihal kenapa babi diharamkan oleh Tuhannya umat Islam padahal daging babi itu enak sekali rasanya. Kenapa yang enak-enak itu yang dilarang?

Menjawab pertanyaan pelik itu sang sufi sulit sekali untuk menjawabnya karena yang bertanya adalah seorang akademisi yang maunya dijawab secara ilmiah dan logis.

Sesuatu yang dilarang oleh agama tentu kewajiban bagi penganutnya untuk mematuhinya, karena itu adalah kebenaran normatif, yang mau ataupun tidak mau penganutnya harus tunduk dan patuh.

Karena mendapat desakan pertanyaan tersebut secara terus menerus akhirnya sang sufi menjawab "Bila anda memang memerlukan jawabannya, kalau tidak berkeberatan tolong siapkan babi jantan dan betina beberapa pasang dan ayam beberapa pasang.... dan bawa binatang-binatang tersebut kemari..." ujar sang sufi.

Akhirnya dibawakanlah apa yang diinginkan sang sufi. Satu persatu babi dan ayam itu dilepaskan, ada babi betina yang dikerubuti babi jantan untuk dikawin bergiliran, sementara itu ayam berbeda dengan babi setelah salah seekor ayam jantan (jago) mengawini, datang jago yang lain, sayangnya jago pertama tidak mau menerimanya akhirnya keduanya bertarung sampai salah satu diantaranya jatuh tersungkur dan berteriak 'keooook.." yang artinya ampun atau ayang yang kalah menerima kekalahannya. Yang kalah langsung ngibrit melarikan diri.

Demikianlah dalam dunia flora fauna, ayampun memiliki kehormatan versi ayam sehingga berani mempertaruhkan nyawa demi kekasih yang dicintanya (ayam betina) pasangannya, sementara babi tanpa ada belas kasihan sang jantan pertama membantu pejantan kedua untuk bersama-sama melampiaskan nafsu kebinatangannya terhadap babi betina. Budaya babi tak memiliki kehormatan versi babi.

Semestinya kita belajar pada filsafat ayam untuk mempertahankan cinta kasih kita kepada istri atau pasangan tercinta, bukan berguru pada babi.

-o0o-

Makanan biasanya menyifati siapa saja yang memakannya. Orang yang vegetarian tentu berbeda tabiatnya dengan orang pemakan segalanya. Demikian juga tentu ada pengaruhnya bagi yang memakan daging babi terhadap perkembangan jiwanya.

Di dalam agama Islam babi dilarang untuk dimakan, tidak ada alasan untuk diperdebatkan karena itu adalah perintah Tuhan. Kalaupun sebagian ahli gizi menemukan cacing pita yang terkandung didalamnya ini adalah suatu kebetulan. Kesenangan manusia beragam, tentu tak elok memaksakan kehendak terhadap yang bukan penganut agama Islam untuk melarangnya memakan babi karena ini menyangkut masalah selera, dan selera itu tidak bisa diperdebatkan, daging babi adalah nikmat bagi yang menyukainya, hanya saja bagi penganut yang mempercayai bahwa babi itu haram atau dilarang untuk dimakan tetapi mencobanya, maka yang dirasakan bukannya nikmat tetapi justru sebaliknya merasa berdosa dan membuat jiwanya sengsara serta

Tidak ada komentar: